Postingan

Raja Ampat

Gambar
Nanti, suatu saat... Yang terdengar hanya raungan mesin kapal kayu dan deburan ombak kecil yang mendera pada sisi kapal yang perlahan-lahan melepaskannya. Yang terlihat hanya keindahan gugusan wayag, yaitu gugusan batu-batu vulkanik yang mencuat dari lautan dengan sangat indah. Konon katanya wayag ini lebih indah dari yang ada di Halong Bay, Thailand. Menikmati indahnya panorama alam, burung-burung beterbangan dari ujung pohon kecil di salah satu pulau tak berpenghuni, pasir putih hangat, dan kekayaan bawah lautnya dengan snorkeling atau diving di beberapa titik di sana. sumber foto lokasiwisata.info Yap, aku akan berada di kabupaten Raja Ampat. Salah satu kabupaten di Papua Barat, Indonesia.  Sama kamu! :)

Kegilaan

Beberapa hari belakangan ini, saya merasa penat luar biasa. Bukan karena tugas yang menggunung atau pekerjaan yang meruah sehingga sulit untuk diselesaikan (itu karena saya sedang menganggur). :D  Saya hanya merasa penat tanpa alasan yang spesifik. Aneh ya? Tidak, saya rasa. Tidak perlu dipungkiri, setiap orang selalu butuh waktu dan ruang untuk dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa memberikan batasan seberapa banyak atau seberapa lama, karena hal-hal demikian bersifat kondisional. Se-keras kepala-nya saya sebagai manusia, orang-orang terdekat saya pasti paham bahwa Eka adalah tipikal perempuan yang sangat menghargai kesempatan untuk kesendirian. Kondisi tanpa kegilaan yang memungkinkan saya untuk melakukan banyak hal yang sukai, namun terlampau sulit saya lakukan dalam kondisi beramai-ramai. Namun lama kelamaan, saya justru merasa kosong luar biasa. Sepertinya mulai menghadapi sindrom kelebihan waktu berkualitas untuk diri sendiri. Dan sekarang saya butuh semua...

Ada Waktunya

Ketika mencapai usia kepala dua maka pikulan beban pun bertambah dan menyongsong masa depan pun semakin nyata untuk dihadapi, semua itu memang ada waktunya. Empat tahun menimba ilmu akhirnya bertemu dengan tugas akhir, sidang, yudisium dan wisuda adalah suatu perjalanan yang harus dihadapi seseorang yang katanya kaum intelektual muda untuk memperoleh gelar sarjana, semua itu memang ada waktunya. Dari   pintu ke pintu yang didatangi hanya untuk mencari tumpuan akan masa depan, berharap tiga hari, lalu seminggu atau sebulan, dan telepon genggam selalu menjdi sorotan. Yap! Akhirnya berbunyi, mengabarkan suatu kabar gembira. Itu akan ada waktunya. Semua memang ada waktunya ketika impian, cita, harapan dan doa menjadi kenyataan. Jikalau belum didapatkan, yaa karena memang belum saatnya. Bersabarlah. Ketika berganti bulan, hati ini selalu saja senang karena bisa meminta uang jajan. Adakalanya berganti menjadi memberi. Ya, semua memang ada waktunya. Dan... Sama ...

Awanku

Hai, Kamu. Kamu yang duduk sendirian di sana... Apa yang kau lamunkan? Merindukanku kah? Kau tampak sangat nyaman, sangat tenang. Matamu sibuk memandangi langit biru, dan menikmati hembusan lembut sapaan angin yang menerpa tubuhmu. Bahkan kau tertawa renyah saat sang angin bermain dengan hijabmu. Terkadang aku cemburu dengan langit itu. Kau jarang sekali menolehkan wajahmu dari itu. Begitu sukanya kah dirimu? Ahh, kalau saja aku bisa menghadiahkan langit dan seluruhnya yang ada di atas sana, untukmu... Bagaimana jika tiba-tiba saja aku mendekatimu dan menutup kedua matamu dari belakang? Bisakah kau menebak siapa aku? Apa kamu akan marah padaku? Hahaha Aku tak sabar melihat wajahmu yang cemberut saat aku mengganggu kesenanganmu.

Aku Pulang

Dan perasaan ini hadir bersama angin sejuk sore hari. . . Aku setengah berlari, dan berhenti di penghujung jalan di depan tangga kayu yang masih menyisakan aroma cat, di depan rumah pohon kita. Kubiarkan pikiranku memutar ulang fragmen-fragmen yang berloncatan membentuk peristiwa-peristiwa silam. Mengisi rongga dadaku dengan sebanyak mungkin udara untuk meredam gendering kerinduan yang ditabuh berulang. Mengapa jantungku semakin memantulan debaran dengan buncahan rasa yang sukar kujabarkan. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling rumah setelah berdamai dengan perasaan, menelusuri tiap jengkal yang mampu kuraih. Lagi-lagi aku terpaku dengan pesona yang ditawarkan di depan mata sebelum menapaki semua tangga kayu ke atas. Pot-pot bunga melati yang kugantung di setiap sudut rumah. Bunganya yang sedang kuncup itu   akan kita nikmati bersama saat mereka bermekaran. Aku suka sekali wanginya, An. Warna putihnya bagai kumpulan peri-peri yang mengucapkan selamat datang padaku. Apaka...

Rumah Kita

Kau dan Aku... Mungkin kita berdua sudah berada pada titik terjenuh kehidupan kita. Kau bilang tak mampu lagi merasakan bagaimana mencintai, dan aku pun sepertinya mulai mati hati. Lelah... Aku tahu kau juga merasakan itu, sama sepertiku. Ingin menghilang dan membangun dunia milik kita sendiri. Bercengkrama berdua, berbagi hati. Ingat apa impian kita? Duduk berdua di halaman luas, berbaring memandangi awan dan langit, sambil menanti jingga senja hari. Atau berjalan di bawah gerimis yang perlahan menjadi deras untuk menyamarkan air mata kita, berdua. Akupun muak, An… sama sepertimu. Aku ingin bersamamu, menghias rumah pohon kita dengan seribu senyum. Menata ruangan yang tidak seberapa luas ini sesuai dengan keinginan kita. Aku yakin selera kita sama, karena kau separuhku. Dari sini kita bisa melihat padang ilalang dan juga dedaunan hijau kesuakaanmu, karena aku tahu kau suka melihatnya menari saat angin atau hujan menggodanya. Kita juga bisa merasa sedikit lebih d...

Aku butuh 24jam-mu

Setelah dua hari kurasa ada yang berbeda, iya, aku tanpa pesan-pesan yang selalu kau kirimkan untukku. Hari ini setelah sholat magrib, aku menemukan gambar amplop surat bertuliskan namamu dilayar ponselku. Ah, rinduku sedikit terobati. Isi pesanmu hanya panggilan untukku. Hey, apakah kau masih ingat punya..?  Ah, apa kau merindukanku?  Setelah lebih dari duapuluh empat jam aku tanpa kabar darimu. Sebenarnya ini mauku, aku yang menyuruhmu jangan menghubungiku jika tidak sedang di rumah. Alasan hanya satu, aku selalu punya pikiran buruk dan bercabang-cabang kemana pun jika aku sedang tak bersamamu. Bukannya aku tak percaya padamu, bukan. Aku hanya tidak percaya orang-orang disekelilingmu. Itulah mengapa, setelah kita jauh dalam hal jarak, aku lebih merasa nyaman jika tahu kau sedang berada di rumah. Hanya itu.  Terakhir dua malam yang lalu, aku mengobrol denganmu lewat telpon. Itupun aku yang menghubungimu. Sedangkan kau? Kau tak pernah lebih cepat untuk berp...