Postingan

Menampilkan postingan dengan label Syair

Gadis Bermata Teduh - Aldhin

Gadis bermata teduh Dan akhirnya aku kembali mengenangmu Setelah aku hanyut dalam rindu yang membara dihatiku Masih adakah ruang di hatimu untuk berteduh? Setelah panas gurun menyita air dalam tubuhku Masih adakah secawan penawar untuk rindu ini? Kalau sudah tak ada, biarkan saja aku di matamu berteduh di sana Karena di matamu aku ingin mandi dan hanyutkan semua rinduku Setelah itu akan kubangun bendungan di sana Agar air mata itu tak lagi hanyutkan tawa dan labuhkan batinmu pada sepi Gadis bermata teduh Aku ingin menyelam di matamu Mencari tawa yang hanyut agar kembali meruang lalu menyerbak di wajahmu Gadis bermata teduh Kurindui senyummu yang menyemangati hari-hariku Senin, 26 April 2010. Mozaik.

Kaca Yang Berdebu

Dia ibarat kaca yang berdebu Jangan terlalu keras membersihkannya Nanti ia mudah retak dan pecah Nanti ia mudah keruh dan bernoda Dia ibarat kaca yang berdebu Jangan terlalu lembut membersihkannya Ia bagai permata keindahan Sentuhlah hatinya dengan kelembutan Ia sehalus sutera di awan Jagalah hatinya dengan kesabaran Lemah lembut lah kepadanya Namun jangan terlalu memanjakannya Tegurlah bila ia bersalah Namun jangan lah lukai hatinya Bersabarlah bila menghadapinya Terimalah ia dengan keikhlasan Karena ia kaca yang berdebu Semoga kau temukan dirinya cahayakan iman

Secarik kisah menjadi simponi.

Diam dan dalam. Sebait sajak menjadi siluet di sisi hati yang manja. Perlukah terima kasih saat iblis menyelinap di sela hati. Mungkin iya dan mungkin tidak. Wahai hati yang sendiri. Usia kan memakan mu. Tanpa manja dan keerotisan bahasa. Yang ada hanya tamparan zaman. Hingga keriput dan lebam disekitar matamu yang tak lagi merayu.

Romansa biru.

Saat ku tatap indah matamu. Sayu lantunan puji ku persembahkan untukmu. Embun bening pagi ini tergambar wajahmu. Wajah manis anggun nan ayu bahkan kelopak mawar pun tahu. Kan ku gali langit tawarkan cita dalam manis senyummu. Bukan berlebihan, tidak.. bukan itu maksudku. Romantika padukan angan merah muda dalam prosa pemikat. Teguh selamanya dalam lantunan tahajud cinta. Jika kau tanyakan mengapa. Tiada yang salah, aku bermain dalam romansa biru dengan aksesoris rindu. Walau semu dalam hikayat para pujangga yang bodoh.

Raung Belantara

Raung belantara rimba menawan senja. Tipis jingga di cakrawala. Menanti semangat para taruna. Bagai lolong anjing hutan. Diantara semak belukar. Suaranya bangunkan para dewa yang telah lama lelap. Taruna diantara batas senja. Ataukah dipucuk-pucuk rimba. Tetap berkobar semangat. Meski belukar kau dapat. Dan ingatlah! Tuhan tidak tidur dibatas pikiran kita yang lelah.

Butiran Embun

Butiran embun di pucuk daun.. merona cerah seperti untaian do'a dikala resah.. Menyegarkan siapa pun yang memandangnya.. Ingin rasanya menegakmu.. Agar hilang dahaga rindu yang Aku pun tak tahu.. Tapi lihatlah, fajar kan terbit dan embun di pucuk-pucuk daun menjadi kenangan.. Kenangan yang bisa membuat luka dan tawa.. Aku tidak ingin terburu-buru.. Setiap embun pasti akan hilang.. Menyapa dan pergi entah kemana.. Aku akan pergi mencari telaga.. ya, telaga.. Tak hanya menegak.. aku pun bisa mandi disana..

Surat kepada ayah

Kepada yang tercinta ayahku.. Assalamu'alaikum tak ada kata yang pantas selain doa anakmu ini, ananda hanya ingin bersyair ayah, "kala hening malam merenggutku dalam galau, aku ingat dirimu.. di sela-sela perbincangan hati, ku selipkan namamu.. bukan rengekan gendong atau tagihan janjiku padamu.. aku tahu.. masa tlah berlalu.. tapi cintaku ini bukan mengalir lewat masa.. tapi lewat sukma yang murni.. doaku selalu ku bagi untukmu.. setelah Ibu.." dari yang merindukanmu.. Anakmu :)

Elang di ujung jurang

Di sela bebatuan dan hempasan angin pegunungan. Di antara ranting kering berserakan. Dalam kelaparan menanti sang induk pulang membawa harapan. Musim lalu lalang. Masa pun berganti. Kumpulan ranting kering di ujung jurang kini tlah sepi. Tiada lagi hempasan angin gunung. Sayap-sayap perkasa tlah tumbuh. Membentang raja angkasa melalang buana. 7 lautan bukanlah apa-apa. Semua berawal dari harapan yang dibawa.

Salam Pak Guru

Tuk..tuk..tuk... Beradu sol sepatu dengan lantai kayu, geli.. Beri sambutan wajib merayu.. hahaha.. rupanya itu Pak Guruku.. Peci hitam kumis pun hitam.. Selamat pagi anak-anak.. Selamat malam kami jawab.. Selamat siang anak-anak.. Selamat pagi kami jawab.. Tenang hai Pak guru.. engkau punya prestasi.. Ku jawab salammu karena terlalu pagi kau mengetuk hatiku.. dan terlalu siang kau hidangkan.. Aku besok terbagi Pak Guru.. ajari aku malam ini..

Melodi Pengikat Mimpi

Suara gema burung malam bersahutan.. Gemericik tetes air diantara sela hati, cukup untuk menyegarkan dahaga malam ini.. Aku tak ingin bulan sabit malam ini, namun purnama yang manja.. Aku tidak akan menanyakan kapan kau berlalu, tapi pantaskah aku di depanmu? Lebih baik aku pergi dengan segala teka-teki malam.. Menyibak alam raya dan menemukan pecahan mimpi yang hilang..