Postingan

Menampilkan postingan dengan label Separuhku

Barangkali Cinta

Barangkali cinta. Jika darahku mendesirkan gelombang yang terungkap oleh darahmu dan engkau beriak karenanya. Darahmu dan darahku boleh terkunci dalam nadi yang berbeda namun berpadu dalam badai yang sama. Kau tahu kenapa? Karena kaulah hujan pertamaku. Barangkali cinta. Jika nafasmu merambatkan api dan memapatkan rongga paru-paruku. Aku terbakar karenanya. Meski nafasmu dan nafasku bangkit dari dada yang beda namun lebur dalam bara yang satu. Kau tahu kenapa? Karena kaulah sakura berbungaku. #SenjaKemerahan #HatiYangJungkirBalik. Dikutip dari wattpad "RDPB". *baru pertama kali posting lewat ponsel". ^^

Aku Suka Langit

Gambar
Aku sedang suka langit Entah Seperti ada perasaan tertarik yang berbeda sekarang Rupa-rupa warna ditampakkan Seakan berbicara Kau bisa dapatkan semangat dari langit pagi Seperti senyuman dari kesayangan Begitupun langit siang Tak kalah menarik Birunya luas Seolah-olah memberimu tempat bersandar, berpijak, bahkan melangkah Biarpun mendung Aku tetap suka langit Tak apa membawa air Bisa jadi menghidupkan Sedikit sendu bisa jadi bikin rindu Apalagi langit senja Jika kau lelah, didamaikan Manis sekali bukan Sayang aku belum sempat mengabadikan langit malam Tapi aku sudah suka Coba kau sempatkan berdiri di tanah lapang dengan langit luas di atas kepalamu Kau bisa seperti orang gila Senyum-senyum sendiri  Ah rasanya aku ingin ke pantai dan ke gunung Menunggu dan melihat matahari terbit dan terbenam Mungkin aku akan semakin jatuh cinta Ya, aku suka langit Maha Suci Allah Sang Pencipta

Rindu

Gambar
Rindu itu abstrak Entah seperti apa wujud, bentuk dan warnanya itu Rindu itu berarti tentang rasa Tentang rasa yang tidak ada tetapi ada, atau sebaliknya

Awanku

Hai, Kamu. Kamu yang duduk sendirian di sana... Apa yang kau lamunkan? Merindukanku kah? Kau tampak sangat nyaman, sangat tenang. Matamu sibuk memandangi langit biru, dan menikmati hembusan lembut sapaan angin yang menerpa tubuhmu. Bahkan kau tertawa renyah saat sang angin bermain dengan hijabmu. Terkadang aku cemburu dengan langit itu. Kau jarang sekali menolehkan wajahmu dari itu. Begitu sukanya kah dirimu? Ahh, kalau saja aku bisa menghadiahkan langit dan seluruhnya yang ada di atas sana, untukmu... Bagaimana jika tiba-tiba saja aku mendekatimu dan menutup kedua matamu dari belakang? Bisakah kau menebak siapa aku? Apa kamu akan marah padaku? Hahaha Aku tak sabar melihat wajahmu yang cemberut saat aku mengganggu kesenanganmu.

Aku Pulang

Dan perasaan ini hadir bersama angin sejuk sore hari. . . Aku setengah berlari, dan berhenti di penghujung jalan di depan tangga kayu yang masih menyisakan aroma cat, di depan rumah pohon kita. Kubiarkan pikiranku memutar ulang fragmen-fragmen yang berloncatan membentuk peristiwa-peristiwa silam. Mengisi rongga dadaku dengan sebanyak mungkin udara untuk meredam gendering kerinduan yang ditabuh berulang. Mengapa jantungku semakin memantulan debaran dengan buncahan rasa yang sukar kujabarkan. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling rumah setelah berdamai dengan perasaan, menelusuri tiap jengkal yang mampu kuraih. Lagi-lagi aku terpaku dengan pesona yang ditawarkan di depan mata sebelum menapaki semua tangga kayu ke atas. Pot-pot bunga melati yang kugantung di setiap sudut rumah. Bunganya yang sedang kuncup itu   akan kita nikmati bersama saat mereka bermekaran. Aku suka sekali wanginya, An. Warna putihnya bagai kumpulan peri-peri yang mengucapkan selamat datang padaku. Apaka...

Rumah Kita

Kau dan Aku... Mungkin kita berdua sudah berada pada titik terjenuh kehidupan kita. Kau bilang tak mampu lagi merasakan bagaimana mencintai, dan aku pun sepertinya mulai mati hati. Lelah... Aku tahu kau juga merasakan itu, sama sepertiku. Ingin menghilang dan membangun dunia milik kita sendiri. Bercengkrama berdua, berbagi hati. Ingat apa impian kita? Duduk berdua di halaman luas, berbaring memandangi awan dan langit, sambil menanti jingga senja hari. Atau berjalan di bawah gerimis yang perlahan menjadi deras untuk menyamarkan air mata kita, berdua. Akupun muak, An… sama sepertimu. Aku ingin bersamamu, menghias rumah pohon kita dengan seribu senyum. Menata ruangan yang tidak seberapa luas ini sesuai dengan keinginan kita. Aku yakin selera kita sama, karena kau separuhku. Dari sini kita bisa melihat padang ilalang dan juga dedaunan hijau kesuakaanmu, karena aku tahu kau suka melihatnya menari saat angin atau hujan menggodanya. Kita juga bisa merasa sedikit lebih d...